Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

RUPST Bukit Asam (PTBA) Pekan Depan, Bersiap Menadah Dividen

PTBA rutin membagikan dividen tunai dalam lima tahun terakhir, dengan rekor tertinggi tahun lalu mencapai 100 persen dari laba bersih. 
Tumpukan batu bara di dekat Train Loading Station (TLS) milik PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) di Muara Enim, Sumatra Selatan. PTBA menargetkan produksi batu bara hingga 37 juta ton pada tahun 2022 mendatang./Bisnis - Aprianto Cahyo Nugroho
Tumpukan batu bara di dekat Train Loading Station (TLS) milik PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) di Muara Enim, Sumatra Selatan. PTBA menargetkan produksi batu bara hingga 37 juta ton pada tahun 2022 mendatang./Bisnis - Aprianto Cahyo Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten batu bara BUMN PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Kamis, 15 Juni 2023 dengan salah satu mata acara penggunaan laba bersih tahun buku 2022. 

Berdasarkan keterbukaan informasi dalam pemanggilan RUPST yang dipublikasikan pada 24 Mei 2023, terdapat 7 mata acara rapat. Di antaranya persetujuan laporan tahunan dan pengesahan laporan keuangan konsolidasian serta penetapan penggunaan laba bersih untuk dividen tahun buku 2022. 

Sementara itu, berdasarkan penelusuran Bisnis, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, PTBA rutin membagikan dividen kepada pemegang saham. Terakhir, untuk tahun buku 2021 anggota holding BUMN Tambang MIND ID ini membagikan dividen sebesar Rp688,51 per saham. 

Pada tahun buku 2017 atau dividen 2018, PTBA memutuskan membagikan dividen dengan rasio pembayaran atau dividend payout ratio (DPR) 75 persen. PTBA memutuskan membagikan dividen tunai dengan total Rp3,35 triliun atau Rp318,52 per saham untuk kinerja tahun buku 2017.

Tahun berikutnya, emiten batu bara ini kembali menebar dividen setara 75 persen dari laba 2018 atau sebanyak Rp3,76 triliun. Dengan demikian, nilai yang diterima oleh pemegang saham Rp339,63 per lembar.

Kemudian pada 2020, PTBA membagikan dividen kepada pemegang saham sebesar Rp3,65 triliun. Jumlah tersebut merupakan 90 persen dari total laba bersih yang tercatat sebesar Rp4 triliun sepanjang 2019. 

Namun, pada 2021 PTBA hanya membagikan dividen sebesar 35 persen dari total laba bersih yang tercatat sebesar Rp2,4 triliun. Dividen 2021 tercatat sebesar Rp835 miliar atau setara Rp74,69 persen. 

Pada 2022, investor PTBA diguyur dividen PTBA yang berasal dari 100 persen dari laba bersih 2021. Dividen kala itu mencapai Rp7,91 triliun atau setara 686,52 per saham. Pembagian dividen tersebut didasari oleh pendapatan Bukit Asam yang meningkat 69 persen dari Rp17,32 triliun pada 2020. Sementara, laba bersih melonjak 231,5 persen dari tahun sebelumnya. 

Sementara itu, laba bersih PTBA sepanjang 2022 kembali meroket 59,5 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp12,6 triliun. EBITDA perseroan juga naik signifikan sebesar 52,6 persen secara tahunan menjadi Rp17,7 triliun. 

Rekor laba bersih yang dicapai pada tahun 2022 memecahkan rekor laba bersih tahun sebelumnya. Dua tahun berturut-turut PTBA berhasil mencetak rekor laba setelah bergabung dengan holding BUMN tambang MIND ID pada 2018 lalu. 

Direktur SDM PTBA Suherman mengatakan sepanjang tahun 2023, kinerja perseroan juga terdongkrak dari sisi produksi dan penjualan batu bara yang masih meningkat. Untuk diketahui, produksi batu bara PTBA pada kuartal I naik 7 persen secara tahunan menjadi Rp 6,8 juta ton.

Dari sisi penjualan, total volume sales batu bara PTBA mencapai 8,8 juta ton atau tumbuh 26 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 7 juta ton. Di saat yang sama, rata-rata harga jual batu bara PTBA atau average selling price (ASP) tetap stabil di Rp 1,1 juta/ton. Akibat dari stabilnya harga jual serta peningkatan volume penjualan yang signifikan tersebut, pendapatan perseroan mampu meningkat sebesar 21 persen secara tahunan menjadi Rp 10 triliun. 

Meski demikian, Suherman menyebutkan saat ini PTBA memiliki tantangan utama yaitu kenaikan harga pokok penjualan. Dia mengklaim perseroan akan memaksimalkan potensi pasar dalam negeri dan peluang ekspor, serta efisiensi secara terukur di semua lini demi mempertahankan kinerja positif. 

“Harga pokok penjualan mengalami kenaikan, di antaranya karena biaya jasa penambangan, bahan bakar, royalti, angkutan kereta api. Karena itu, PTBA terus berupaya memaksimalkan potensi pasar di dalam negeri serta peluang ekspor untuk mempertahankan kinerja positif,” katanya dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (9/6/2023). 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper